Asuhan Kebidanan Pada Menopause Berdasarkan Evidence Based Dalam
Perspektif Gender Dan HAM,
Prinsip-prinsip Manajemen Kebidanan dalam Asuhan Kebidanan, Penerapan Manajemen
Kebidanan dalam Asuhan kebidanan

DOSEN PENGAMPUH: HJ.
WAODE ALIAH, SKM.,M.KES
OLEH:
KELOMPOK 10
S I T T I
S A R T I (076)
YANTI DATU ARUNG (056)
r RISKA NURYANa (073)
PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK
STIKes MEGA REZKY MAKASSAR
KOTA MAKASSAR
T.A 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bidan sebagai seorang pemberi layanan kesehatan
(health provider) harus dapat melaksanakan pelayanan kebidanan dengan
melaksanakan manajemen yang baik. Dalam hal ini bidan berperan sebagai seorang
manajer, yaitu mengelola atau memanage segala sesuatu tentang kliennya sehingga
tercapai tujuan yang diharapkan. Dalam mempelajari manajemen kebidanan
diperlukan pemahaman mengenai dasardasar manajemen sehingga konsep dasar
manajemen merupakan bagian penting sebelum kita mempelajari lebih lanjut
tentang manajemen kebidanan.
Akar atau dasar manajemen kebidanan, adalah ilmu
manajemen secara umum. Dengan mempelajari teori manajemen, maka diharapkan
bidan dapat menjadi manajer ketika mendapat kedudukan sebagai seorang pimpinan,
dan sebaliknya dapat melakukan pekerjaan yang baik pula ketika bawahan dalam
suatu sistem organisasi kebidanan. Demikian pula dalam hal memberikan pelayanan
kesehatan pada kliennya, seorang bidan haruslah menjadi manager yang baik dalam
rangka pemecahan masalah dari klien tersebut. Untuk itu kita perlu mengenal
terlebih dahulu pemahaman mengenai ilmu manajemen secara umum, prinsip-prinsip
manajemen, penerapan manajemen kebidanan dan bahkan manajemen skill.
Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berfikir
logis sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur pikir bagi
seorang bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang menjadi
tanggung jawabnya.
Manajemen kebidanan mempunyai peran penting dalam
menunjang kerja seorang bidan agar bidan dapat melakukan pelayanan dengan baik
kepada kliennya. Oleh karena itu, kami menyusun makalah ini dengan judul “Asuhan
Kebidanan pada Menopause berdasarkan Evidence Based dalam Perspektif Gender dan
HAM, Prinsip-prinsip Manajemen kebidanan dalam Asuhan Kebidanan, Penerapan Manajemen kebidanan dalam Asuhan
Kebidanan“.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagamainana
asuhan kebidanan pada menopause berdasarkan evidence based dalam perspektif
gender dan HAM?
2. Apa sajakah prinsip-prinsip manajemen
kebidanan
dalam asuhan kebidanan?
3. Bagaimana
penerapan dalam
manajemen kebidanan dalam asuhan kebidanan?
C.
TujuanPenulisan
1. Untuk
mengetahui asuhan kebidanan pada menopause berdasarkan evidence based dalam
perspektif gender dan HAM.
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip
manajemen
kebidanan
dalam asuhan kebidanan.
3. Untuk mengetahui penerapan dalam manajemen kebidanan dalam asuhan
kebidanan
D.
ManfaatPenulisan
1.
Untuk Institusi
Dapat
dijadikan sebagai acuan dalam memberikan wawasan/pengetahuan kepada mahasiswa,
apakah mahasiswa sudah memahami manajemen kebidanan.
2.
Untuk Mahasiswa
Dapat
dijadikan sebagai referensi dalam menggali/mencari informasi untuk memperluas
wawasan/pengetahuan tentang manajemen kebidanan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Kebidanan Pada Menopause
Menopause
berasal dari bahasa Yunani yaitu Men Dan Pauseis yang menggambarkan berhentinya
haid. Menurut kepustakaan abad 17 dan 18, menopause dianggap tidak berguna dan
tidak menarik lagi. Webster’s Ninth New Collgiate Dictionary mendefinisikan
menopause sebagai periode berhentinya haid secara alamiah yang biasanya terjadi
antara usia 40–50 tahun. Menopause kadang-kadang juga dinyatakan sebagai masa
berhentinya haid sama sekali. Dapat didiagnosa setekah 1 tahun tidak mengalami
menstruasi. Masa pancaroba ini disertai dengan gejala-gejala yang khas. Pada
premenopause timbul kelainan haid, sedangkan dalam postmenopause terjadi
gangguan vegetatif seperti panas, berkeringat dan palpitari, gangguan psikis
berupa labilitas emosi dan gangguan organis yang bersifat atrofi alat kandungan
dan tulang.
Menopause
premature: Menopause premature terjadi pada usia dibawah 40 tahun. Diagnosa
menopause premature yaitu apabila ada penghentian haid sebelum waktunya
disertai dengan hot flushes serta peningkatan kadar hormone gonadotropin. Apabila
kedua gejala yang terkhir tidak ada, perlu dilakukan penyelidikan terhadap
sebab-sebab lain dari terganggunya fungsi ovarium. Factor- factor yang dapat
menyebabkan menopause premature adalah heriditer, gangguan gizi yang cukup
berat, penyakit menahun dan penyakit yang merusak jaringan kedua ovarium.
Menopause premature tidak memerlukan terapi, kecuali pemberian penerangan kepada wanita yang bersangkutan.
Menopause premature tidak memerlukan terapi, kecuali pemberian penerangan kepada wanita yang bersangkutan.
Menopause
terlambat: Batas terjadinya menopause umumnya adalah 52 tahun. Apabila seorang
wanita masih mendapat haid diatas 52 tahun, maka hal itu merupakan indikasi
untuk penyelidikan lebih lanjut. Sebab-sebab yang dapat dihubungkan dengan
menopause terlambat ialah : konstitusional, fibromioma uteri dan tumor ovarium
yang menghasilkan estrogen. Wanita dengan karsinoma endometrium sering dalam
anamnesis mengemukakan menopausenya terlambat.
Berikut
ini beberapa factor yang mempengaruhi kapan seorang wanita mengalami menopause
:
1. Usia saat haid pertama kali (menarche)
Semakin muda seorang
mengalami haid pertama kali, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause.
2. Faktor psikis
Wanita yang tidak
menikah dan bekerja diduga mempengaruhi perkembangan psikis seorang wanita.
Menurut beberapa penelitian mereka akan mengalami masa menopause lebih muda,
dibandingkan mereka yang menikah dan bekerja / bekerja atau tdak menikah dan
tidak bekerja.
3. Jumlah anak
Beberapa penelitian
menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan, maka makin tua merka
memasuki masa menopause.
4. Usia melahirkan
Semakin tua seseorang
melahirkan anak, semakin tua ia mulai memasuki usia menopause. Hal ini terjadi
karena kehamilan dan persalinan akan memperlambat system kerja organ
reproduksi. Bahkan memperlambat proses penuaan tubuh.
5. Pemakaian kontrasepsi
Pemakaian kontrasepsi
hormonal akan memperlambat menopause.
6. Merokok
Diduga, wanita
perokok akan lebih cepat memasuki masa menopause.
7. Sosial ekonomi
Meskipun data pasti
belum diperoleh, dalam bukunya DR. Faisal menyebutkan bahwa menopause
dipengaruhi oleh factor social ekonomi, disamping pendidikan dan pekerjaan suami.
Gejala–gejala
menopause:
a.
Ketidakteraturan
siklus haid
b.
Gejolak rasa panas
c.
Kekeringan vagina
d.
Perubahan kulit
e.
Keringat dimalam hari
f.
Sulit tidur
g.
Perubahan pada mulut
h.
Kerapuhan tulang
i.
Badan menjadi gemuk
j.
Penyakit
Dilihat dari sisi ovarium, menopause tidak terjadi secara tiba-tiba tapi terjadi karena beberapa factor. Ovarium mengalami perubahan dari masa remaja/muda, masa produktif/hamil dan menopause dengan terlepasnya folikel sampai mendekati menopause. Pelepasan ini terutama disebabkan karena atresia, tidak ada ovulasi. Karena kebanyaka wanita dimulai dari 2-6 juta folikel selama kehidupannya tapi ovulasi hanya 480 kali selama masa produktifnya.
Dilihat dari sisi ovarium, menopause tidak terjadi secara tiba-tiba tapi terjadi karena beberapa factor. Ovarium mengalami perubahan dari masa remaja/muda, masa produktif/hamil dan menopause dengan terlepasnya folikel sampai mendekati menopause. Pelepasan ini terutama disebabkan karena atresia, tidak ada ovulasi. Karena kebanyaka wanita dimulai dari 2-6 juta folikel selama kehidupannya tapi ovulasi hanya 480 kali selama masa produktifnya.
Gangguan
yang terjadi selama menopause :
·
Osteoporosis
·
Penyakit jantung
koroner
HDL (Hight Density
Lipoprotein) atau kolesterol ‘baik’ yang tinggi pada wanita muda dipengaruhi
oleh estrogen. Pada wanita muda, kadar HDL lebih tinggi daripada wanita tua.
Perbedaan tersebut berlanjut sampai masa menopause. Sebaliknya, totak
kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein) atau lemak kolesterol ‘jahat’
lebih rendah pada wanita menopause. Setelah menopause, LDL meningkat dengan
cepat. Oleh karena itu, setelah menopause resiko terkena PJK (penyakit jantung
koroner) menjadi dua kali lipat pada wanita karena lemak golongan atherogenik (yang
memproduksi lemak pada pembuluh arteri) meningkat pada sekitar usia 60 tahun.
·
Kanker
Pada masa menopause
terjadi proses degenerasi sehingga menyebabkan perubahan-perubahan tidak saja
pada organ reproduksi jaga bagian tubuh lainnya. Salah satu proses degenerasi
tersebut adalah penyakit kanker. Kondisi ini adalah suatu keadaan pertumbuhan
jaringan yang abnormal.
·
Darah tinggi
·
Demensia Tipe
Alzheimer ( pikun )
Selama periode
pramenopause dan pascamenopause terjadi penurunan kadar hormone seks steroid.
Penurunan ini menyebabkan beberapa perubahan neuroendokrin system susunan saraf
pusat, maupun kondisi biokimiawi otak. Padahal, system susunan saraf pusat
merupakan target organ yang penting bagi hormone seks steroid seperti estrogen.
Pada keadaan ini terjadi proses degeneratif sel neuron (kesatuan saraf) pada
hampir seluruh bagian otak, terutama didaerah yang berkaitan dengan fungsi
ingatan.
·
Gairah seks menurun
·
Berat badan meningkat
Usia menopause
terjadi peningkatan berat badan akibat turunnya estrogen dan gangguan
pertukaran zat dasar metabolisme lemak. Selain pada usia ini, biasanya
aktivitas tubuh berkurang, selain itu daya elastis kulit juga menurun, yang
memudahkan lemak disimpan dalam tubuh.
·
Perubahan kulit
Gangguan diatas
dasarnya terjadi karena hormone estrogen yang mulai tertekan.
Menjalani Masa
Menopause:
a)
Terapi Sulih Hormon (
TSH )
b)
Olah raga meningkatkan
kebugaran dan kesehatan
c)
Nutrisi
r
Kalori
r
Gizi (karbohidrat,
protein, lemak, vitamin, mineral, asupan serat, air)
d)
Gaya hidup
e)
Pemeriksaan kesehatan
f)
Meningkatkan
kehidupan religi.
Tahap-
Tahap Menopause:
Pada
dasarnya menopause dibagi menjadi tiga tahap yaitu masa pramenopause, menopause
dan pasca menopause.
1.
Pramenopause
Pramenopause
yaitu masa transisi antara masa ketika wanita mulai merasakan gejala menopause
(biasanya pada pertengahan atau akhir usia 40 tahun) dan pada masa siklus haid
benar-benar terhenti (rata-rata 51 tahun). Pada masa pramenopause akan terjadi
perubahan fisik yang berarti.
2.
Menopause
Masa
menopause menandakan haid terakhir. Penentuan masa menopause hanya bisa
dilakukan setelah seorang wanita tidak haid lagi selama 1 tahun penuh.
3.
Pascamenopause
Masa ini
adalah masa setelah haid terakhir seorang wanita. Dengan kata lain,
pascamenopause terjadi setelah masa menopause. Biasanya, keadaan fisik dan
psikologisnya sudah dapat menyesuaikan dii dengan perubahan-perubahan
hormonalnya.
Tanda Awal Menopause:
a.
Perubahan
kejiwaan
Perubahan
yang dialami oleh wanita dengan menjelang menopause adalah merasa tua, mudah
tersinggunga, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut tidak bisa memenuhi
kebutuhan seksual suami, rasa takut bahwa suami akan menyeleweng. Keinginan
seksual menurun dan sulit mencapai kepuasan (orgasme), dan juga merasa
tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu, merasa memberatkan keluarga dan
orang lain.
b. Perubahan
fisik
Pada
perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak bawah kulit
menghilang sehingga kulit mengendor, sehingga jatuh dan lembek. Kulit mudah
terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi hitam.pada kulit
tumbuh bintik hitam, kelenjar kulit kurang berfungsi sehingga kulit menjadi
kering dan keriput.
Karena
menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja usus menjadi lambat, dan
mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus halus yang semakin
berkurang maka akan menimbulkan gangguan buang air besar berupa obstipasi.
Perubahan
yang terjadi pada alat genetalia meliputi liang senggama terasa kering, lapisan
sel liang senggama menipis yang menyebabkan mudah terjadi (infeksi kandung
kemih dan liang senggama). Daerah sensitive makin sulit untuk dirangsang. Saat
berhubungan seksual dapat menjadi nyeri.
Perubahan
pada tulang terjadi oleh karena kombinasi rendahnya hormon paratiroid. Tulang
mengalami pengapuran, artinya kalium menurun sehingga tulang keropos dan mudah
terjadi patah tulang terutama terjadi pada persendian paha
B. Prinsip-prinsip
Manajemen Kebidanan
Tiga prinsip pokok manajemen adalah efisien, efektif
dan rasional dalam mengambil keputusan.
1.
Efisiensi
Efisien adalah bagaimana mencapai akhir dengan hanya
menggunakan sarana yang perlu, atau dengan menggunakan sarana sesedikit
mungkin. Efisiensi adalah ukuran mengenai hubungan antara hasil yang dicapai
dengan usaha yang telah dikeluarkan (misalnya oleh seorang tenaga kesehatan).
2.
Efektivitas
Efektifitas adalah seberapa besar suatu tujuan sedang,
atau telah tercapai. Efektifitas merupakan suatu yang hendak ditinggalkan oleh
manajemen.
3.
Rasional dalam mengambil keputusan
Pengambilan keputusan yang rasional sangat diperlukan
dalam proses manajemen. Keputusan merupakan suatu pilihan dalam dan dua atau
lebih tindakan. Dalam istilah manajemen, pengambilan keputusan merupakan
jawaban atas pertanyaan tentang perkembangan suatu kegitan.
Prinsip proses manajemen
kebidanan menurut Varney
Proses manajemen kebidanan
sesuai dengan standart yang dikeluarkan oleh American College of Nurse
Midwife (ACNM) terdiri dari :
1. Secara
sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan
dengan melakukan pengkajian yang keomprehensif terhadap kesehatan setiap klien,
termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
2. Mengidentifikasi
masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data dasar
3. Mengidentifikasi
kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan
tujuan asuhan kesehatan bersama klien.
4. Memberi
informasi dan support sehingga klien dapat membuat keputusan dan bertanggung
jawab terhadap kesehatannya.
5. Membuat
rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
6. Secara
pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual
7. Melakukan
konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan berkolaborasi dan
merujuk klien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya.
8. Merencanakan
manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam situasi darurat dan bila ada
penyimpangan dari keadaan normal.
9. Melakukan
evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan dan merevisi
rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.
Proses manajemen kebidanan sebenarnya sudah
dilakukan sejak orang mulai menolong kelahiran bayi. Pada zaman dahulu kala
perempuan yang sudah berpengalaman melahirkan dipercaya untuk memberikan
pelayanan kepada ibu-ibu yang hamil dan melahirkan. Mereka diharapkan mampu
memberikan pertolongan kepada ibu yang hamil dan melahirkan. Tentu pertolongan
yang diberikan pada masa tersebut hanya berdasarkan pada pengalaman mereka
sendiri, namun walau tanpa referensi mereka juga dapat memberikan pelayanan
yang untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Pada era millenium yang terus menghadapkan kita pada
situasi yang mengandalkan IPTEK membuat kita sebagai bidan maupun penerima jasa
pelayanan kebidanan yaitu ibu-ibu yang hamil dan melahirkan semakin kritis
terhadap mutu pelayanan kebidanan. Dengan demikian pelayanan yang diberikan
sudah selayaknya berdasarkan teori yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seorang bidan dalam manajemen yang dilakukan perlu
lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial. Dengan kemampuan
yang lebih dalam melakukan analisa, bidan akan menemukan diagnosa atau masalah
potensial ini. Kadangkala bidan juga harus segera bertindak untuk menyelesaikan
masalah tertentu dan mungkin juga melakukan kolaborasi, konsultasi atau bahkan
merujuk kliennya.
Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa permasalahan
kesehatan ibu yang ditangani oleh bidan mutlak menggunakan metode dan
pendekatan masalah. Sesuai dengan lingkup dan tanggungjawabnya, maka sasaran
manajemen kebidanan ditujukan pada individu, ibu dan anak, keluarga maupun
kelompok masyarakat.
Upaya menyehatkan dan meningkatkan status kesehatan
keluarga akan lebih efektif bila dilakukan melalui ibu baik didalam keluarga
maupun keluarga didalam kelompok masyarakat. Manajemen kebidanan digunakan oleh
bidan didalam setiap melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan kesehatan ibu dan anak
dalam lingkup tanggungjawabnya.
Prinsip-prinsip manajemen kebidanan dalam memberikan
asuhan kebidanan:
1.
Minimalkan rasa tidak nyaman baik fisik
maupun emosi
2.
Jaga privacy klien
3.
Adaptasikan pola pendekatan ke klien
dengan tepat
4.
Beri kesempatan kepad klien untuk
mendapatkan dukungan
5.
Saling bertukar informasi
6.
Beri kesempatan klien untuk bertanya
7.
Dukung hak klien untuk membuat dan
bertanggung jawab terhadap setiap keputusan mengenai perawatan
8.
Komunikasikan dengan tim kesehatan lain
9.
Terima tanggung jawab dalam membuat
keputusan dan konsekuensinya
10. Kembangkan
lingkungan yang saling menghargai di setiap interaksi profesional.
C.
Penerapan
Manajemen Kebidanan
Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan
praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-langkah
atau proses manajemen kebidanan.
Langkah-langkah manajemen kebidanan tersebut adalah:
1. Identifikasi
dan analisis masalah
2. Diagnosa
kebidanan
3. Perencanaan
4. Pelaksanaan
5. Evaluasi
Pada tahun 1997, Helen Varney menyempurnakan proses
5 langkah tersebut menjadi 7 langkah. Langkah-langkah tersebut membentuk
kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi,
setiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan
semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
Tujuh langkah
manajemen kebidanan menurut Helen Varney
Langkah I : Mengumpulkan
semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan
Langkah II : Mengintreprestasikan
data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah
Langkah III : Mengidentifikasi
diagnosis/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
Langkah IV : Menetapkan
kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan
lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien
Langkah V : Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan
rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya
Langkah VI : Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman
Langkah VII : Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan
mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif
Melihat kembali penjelasan diatas maka proses
manajemen kebidanan merupakan pola pikir bidan dalam melaksanakan asuhan kepada
klien. Diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan
rasional, serta seluruh aktifitas atau tindakan yang diberikan oleh bidan pada
klien akan efektif, serta terhindar dari seluruh aktivitas atau tindakan yang
bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien.
Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan
dijabarkan, sebagai berikut :
1. Tahap
Pengumpulan Data Dasar (Langkah I)
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi
(data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
klien.
Untuk memperoleh data dilakukan
dengan
cara :
a. Anamnesis.
Anamnesis
dilakukan
untuk
mendapatkan
biodata
riwayat
menstruasi,
riwayat
kesehatan, riwayat
kehamilan, persalinan,
dannifas, bio-psiko-sosio-spiritual, serta
pengetahuan
klien.
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan
tanda-tanda vital, meliputi :
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi)
2) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan cacatan terbaru
serta cacatan sebelumnya)
Dalam manajemen
kolaborasi, bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada
dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal
yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan
menentukan benar tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pendekatan ini harus komprehensif,
mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat
menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya valid. Kaji ulang data yang sudah
dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap, dan akurat.
2. Interpresati Data Dasar (Langkah II)
Pada langkah kedua dilakukan identitas terhadap
diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
telah dikumpulkan. Data dasar
tersebut kemudian di interpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan
masalah yang spesifik. Baik
rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah
tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.
Masalah sering
berkaitan dengan hal-hal yang sering dialami wanita yang diidentifikasioleh
bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosis.
Diagnosis kebidanan
merupakan diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis
kebidanan.
Contoh :
Data : Ibu hamil 8
bulan, anak pertama, hasil pemeriksaan menunjukkan tinggi fundus uteri 31 cm,
BJA (+), puki, presentasi kepala, penurunan 5/5, nafsu makan baik, penambahan
BB selama hamil 8 kg, ibu sering buang air kecil pada malam hari.
Diagnosis : G1P0A0,
hamil 32 minggu, presentasi kepala, anak tunggal hidup intrauterine, ibu
mengalami gangguan
fisiologis pada kehamilan tua.
Perasaan takut tidak
termasuk dalam kategori ‘nomenklatur standar diagnosis,
tetapi tentu akan
menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan
suatu perencanaan untuk mengatasinya.
Standar nomenklatur diagnosa kebidanan :
a. Diakui
dan telah disyahkan oleh profesi.
b. Berhubungan
langsung dengan praktek kebidanan.
c. Memiliki
ciri khas kebidanan
d. Didukung
oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e. Dapat
diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
3. Identitas Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya (Langkah III)
Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah
potensial atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/maslah yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah
diagnosis/masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali
dalam melakukan asuhan yang aman.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu
mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang
akan terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau
diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang
rasional/logis. Kaji ulang apakah diagnosa atau masalah potensial yang
diidentifikasi sudah tepat.
Contoh :
Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang
berlebihan. Bidan harus mempertimbang kemungkinan penyebab pembesaran uterus
yang berlebiahan tersebut (misal : polihidramnion, besar dari masa kehamilan,
ibu dengan diabetes kehamilan, atau kehamilan kembar). Kemudian bidan harus
melakukan perencanaan untuk mengantisipasinya dan bersiap-siap terhadap
kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum tiba-tiba yang disebabkan oleh
atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
4. Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolabirasi Segera
dengan Tenaga Kesehatan Lain (Langkah IV)
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan
konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain sesuai
dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan proses
manajemen kebidanan. Jadi, manajemen tidak hanya berlangsung selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal
saja, tetapi juga selama wanita tersebut dalam persalinan.
Dalam kodisi
tertentu, seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi
dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau
seorang ahli perawat klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu
mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya
konsultasi kolaborasi dilakukan.
Penjelasan diatas
menunjukkan bahwa dalam melakukan suatu tindakan harus disesuaikan dengan
prioritas masalah/kondisi keseluruhan yang dihadapi klien. Setelah bidan
merumuskan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosis/masalah
potensial pada langkah sebelumnya, bidan yang harus merumuskan tindakan
emergency darurat yang harus dilakukan untuk menyelamatkan
ibu dan bayi. Rumusan ini mencakup tindakan segera yang bias dilakukan secara
mandiri, kolaborasi, atau bersifat rujukan.
5. Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh (Langkah V)
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh
yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen
untuk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada
langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yamg sudah teridentifiksasi dari
kondisi klien atau dari
setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi untuk
klien tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal yang akan
terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah bidan
perlu merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait sosial, ekonomi, kultural
atau psikologi. Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah
mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan dan
sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan dan klien, agar dapat
dilaksanakan secara efektif karena klien juga akan
melaksanakan rencana tersebut.
Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan
sesuai hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat
kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan
ini harus besifat rasional dan valid yang didasarkan pada pengetahuan, teori
terkini (up to date), sesuai dengan asumsi tentang apa yang dilakukan klien.
Kaji ulang
apakah rencana asuhan sudah meliputi semua aspek asuhan kesehatan
terhadap wanita.
6. Pelaksanaan
Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)
Pada langkah ke enam, rencana asuhan menyeluruh
dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya
oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan
bahwa langkah tersebut benar-benar terlaksana).
Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan
dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung
jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut.
Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta
biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.Kaji ulang apakah semua rencana
asuhan telah dilaksanakan.
7. Evaluasi (Langkah VII)
Evaluasi dilakukan secara siklus dengan mengkaji
ulang aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana yang
menguntungkan atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.
Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi
keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan
kebutuhan akan bantuan: apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana
diidentifikasi di dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap
efekif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
efektif sedang sebagian lagi belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen
asuhan merupakan suatu kegiatan yang bersinambungan, maka bidan perlu
mengulangi kembali setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen
untuk mengidentifikasi mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif serta pada
rencana asuhan tersebut.
Demikianlah langkah-langkah alur berpikir dalam
penatalaksanaan klien kebidanan. Alur ini merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain, namun berfungsi memudahkan
proses pembelajaran. Proses tersebut diuraikan dan dipilah seolah-olah terpisah
antara satu tahap/langkah dengan langkah berikutnya.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan
pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik
dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak
mungkin proses manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja.
ASUHAN KEBIDANAN
PADA
IBU DENGAN MENOPAUSE
Tanggal masuk : 30-03-2014
Jam : 18.30 WIB
Tanggal pengkajian :
30-03-2014
Jam : 18.30 WIB
Diagnosa : Menopause
I.
PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
Nama pasien : Ny. Suwarni Nama suami : Tn.
Sunaryo
Umur : 51 tahun
Umur : 55 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Suku/bangsa :
Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama
: Islam
Pendidikan :
SMP Pendidikan : SD
Pekerjaan :
IRT Pekerjaan
: Wiraswasta
Penghasilan :
- Penghasilan :
Rp. 1.000.000,-
Alamat : Desa Srikaton
p
KELUHAN UTAMA
Ibu mengatakan cepat lelah,
berkeringat, sering marah-marah dan ibu mengatakan sudah tidak haid selama 8
bulan.
p
RIWAYAT MENSTRUASI
Menarche
: 13 tahun
Dismenorhoe : Tidak ada
Lama
haid : 6-7 hari
Flour albus : Tidak ada
Banyaknya
: 2-3x ganti pembalut
Jumlah :
Tidak ada
Siklus
: 28 hari
Warna/bau : Tidak ada
Teratur/tidak
:
Teratur
p
RIWAYAT KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS YANG LALU
|
Hamil ke-
|
Perkawinan
|
Tempat persalinan
|
Usia kehamilan
|
Jenis persalinan
|
Penolong
|
Penyulit
|
Anak
|
Ket
|
||||
|
kehml
|
Persl
|
Nifas
|
JK
|
BB
|
PB
|
|||||||
|
1
2
3
|
1
1
1
|
Dukun
Bidan
Bidan
|
9 bulan
9 bulan
9 bulan
|
Normal
Normal
Normal
|
Dukun
Bidan
Bidan
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
♂
♀
♂
|
3000 gram
3100 gram
3100 gram
|
49 cm
49 cm
50 cm
|
27 th
22 th
18 th
|
p
POLA MAKAN DAN MINUM
Makan : baik
Minum : baik
p
POLA AKTIFITAS SEHARI-HARI
Istirahat
: cukup
Tidur
: cukup
p
POLA ELIMINASI
BAB : baik
BAK : baik
p
RIWAYAT KB
Kontrasepsi yang pernah digunakan
: ibu mengatakan
menggunakan IUD 2 tahun
p
RIWAYAT PENYAKIT YANG DIDERITA
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit apapun
p
RIWAYAT PENYAKIT YANG LALU
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit serius
p
RIWAYAT PENYAKIT KETURUNAN
Ibu mengatakan tidak ada penyakit
keturunan dalam keluarganya, seperti : DM, asma, jantung, gemeli, hipertensi
p
PERILAKU KESEHATAN
Ibu mengatakan tidak minum
alkohol/obat-obatan, tidak minum jamu, tidak merokok, tidak makan sirih, tidak
minum kopi, ganti pakaian dalam 2x sehari.
p
KEPERCAYAAN/ADAT ISTIADAT
Ibu mengatakan didalam
keluarganya masih ada yang mengadakan selamatan, syukuran, dll.
p
PSIKOSOSIAL
Ibu mengatakan hubungan ibu dan keluarga baik
B. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a. Keadaan
umum : baik
b. Kesadaran
: composmentis
c. Keadaan emosional : stabil
d. Tekanan darah
: 130/80 mmHg
e. Suhu tubuh
: 36 oC
f. Denyut nadi
: 80 x/menit
g. Pernapasan
: 20 x/menit
2) Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Ø
Kepala : warna rambut hitam, tidak
ada benjolan, tidak ada ketombe, tidak rontok, tidak ada nyeri tekan
Ø
Muka : simetris, tidak pucat, tidak
oedema
Ø
Mata : simetris, tidak
oedema, konjungtiva merah muda tidak pucat, sklera putih tidak ikterus
Ø
Hidung
: simetris, tidak polip, tidak skret
Ø
Mulut dan gigi : bibir lembab, lidah merah muda, tidak ada stomatitis,
gigi putih, gusi merah muda tidak ada ginggifitis, tidak ada epulis
Ø
Telinga : simetris, tidak ada serumen
Ø
Leher
: tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena
jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar
limfe
Ø
Dada
: pembesaran payudara simetris, papila mamae menonjol,
tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pengeluaran
Ø
Abdomen : ada linea nigra, tidak ada luka bekas operasi
Ø
Ekstremitas : Atas : simetris, telapak tangan tidak pucat
Bawah : simetris, tidak oedema, tidak varises
b. Perkusi
Reflek patella : +/+
C. Pemeriksaan Laboratorium : Tidak dilakukan
D. Pemeriksaan Penunjang Lain : Tidak dilakukan
E. Kesimpulan : Ibu dengan gangguan menopause
II. INTERPRETASI DATA
|
Tgl / Jam
|
Data Dasar
|
Dx / Mx / Keb
|
|
30-03-2009
18.30 WIB
|
Ds : - Ibu mengatakan cepat lelah, berkeringat, sering marah-marah
dan sudah 8 bulan tidak haid
Do : KU : Baik
TTV : TD : 130/90 mmHg
N : 80x/menit
S : 36 0C
RR : 20x/menit
Payudara : Simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan
|
Dx : Gangguan
Monophause
|
III.
ASSESSMENT
|
Tgl / Jam
|
Dx / Mx / Keb
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
30-03-2014
18.30 WIB
|
Dx : Gangguan Monophause
|
Tujuan :
- Masa Monophause
Berjalan lancer tanpa ada masalah
Kriteria :
KU : Baik
TTV : TD : 110/70-120/80 mmHg
N : 60-80x/menit
S : 365-375 0C
RR : 16-24x/menit
INTERVENSI
1. Lakukan komunikasi terapetik dengan pasien
2. Beritahu ibu penyebab terjadinya gangguan menopause
3. Anjurkan ibu untuk kontrol
ulang jika masih ada masalah
|
1. Dengan komunikasi secara
terapuetik ibu dapat mengungkapkan keluhan
2. Agar ibu tidak takut
3. Untuk mendapatkan penanganan
selanjutnya
|
IV.
PLANNING
|
Tgl / Jam
|
Dx / Mx / Keb
|
IMPLEMENTASI
|
|
30-03-2014
18.30 WIB
|
Dx : Gangguan Monophause
|
1. Melakukan
komunikasi terapetik dengan ibu
2. Memberikan
penjelasan kepada ibu mengenai gangguan menopause
3. Memberitahu ibu
untuk kontrol ulang jika masih ada keluhan
|
V. EVALUASI
Tgl
: 30–03–2014
Jam : 19.00 WIB
S : - Ibu mengatakan
mengerti atas penjelasan yang diberikan.
O : - Ibu mengatakan mengerti dan bisa mengulang
penjelasan yang diberikan oleh bidan
A : Masalah teratasi
P : -
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manajemen
kebidanan adalah suatu metode proses berfikir logis sistematis.Istilah
manajemen kebidanan digunakan untuk memberikan bentuk khusus dari proses yang
dilakukan oleh bidan didalam asuhan atau pelayanan kebidanan
Prinsip-prinsip manajemen kebidanan dalam memberikan
asuhan kebidanan adalah minimalkan rasa tidak nyaman baik fisik maupun emosi, jaga
privacy klien, adaptasikan pola pendekatan ke klien dengan tepat, beri
kesempatan kepad klien untuk mendapatkan dukungan, saling bertukar informasi, beri
kesempatan klien untuk bertanya, dukung hak klien untuk membuat dan bertanggung
jawab terhadap setiap keputusan mengenai perawatan, komunikasikan dengan tim
kesehatan lain, terima tanggung jawab dalam membuat keputusan dan
konsekuensinya, kembangkan lingkungan yang saling menghargai di setiap
interaksi profesional.
Tujuh langkah
manajemen kebidanan menurut Helen Varney
Langkah I (mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan klien secara keseluruhan), langkah II (mengintreprestasikan data untuk mengidentifikasi
diagnosa/masalah), langkah III (mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya),
langkah IV (menetapkan kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi,
kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain, serta rujukan berdasarkan kondisi
klien),
langkah V (Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan
rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya),
langkah VI (melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman),
langkah VII (mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan
mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif)
B.
Saran
1)
Bagi Mahasiswa Kebidanan
Diharapkan makalah ini menjadi referensi bacaan
untuk menambah pengetahuan mengenai prinsp-prinsip manajemen kebidanan dalam
asuhan kebidanan, penerapan manajemen kebidanan dalam asuhan kebidanan, serta
asuhan kebidanan pada menopause.
2) Bagi
masyarakat
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi
baru sebagai sarana pendukung untuk memperluas wawasan khususnya dibidang Asuhan Kebidanan tentang manajemen asuhan
kebidanan.






0 komentar:
Posting Komentar