KONSELING KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Konseling KRR
![]() |
Remaja didefinisikan sebagai
masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Batasan usia remaja
berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Menurut WHO (badan PBB
untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan dari segi
program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan
adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Menurut BKKBN
(Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah
10 sampai 21 tahun.
Kesehatan Reproduksi
Remaja
adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi
yang dimiliki oleh remaja.Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti
bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta
sosial kultural.
Konseling KRR merupakan suatu bentuk komunikasi dua
arah yang dilakukan antara dua pihak. pihak pertama adalahkonselor, membantu
pihak lainnya yaitu klien dalam memecahkan masalah kesehatan reproduksi remaja
yang dihadapinya.
B. Tujuan
Konseling KRR
Konseling KRR bertujuan untuk membantu Kliennya dengan
menggali kondisi dan permasalahan klien serta memberikan informasi KRR yang
tepat dan benar, agar klien mampu dan mengenali serta memahami kondisi dan
permasalahan KRR yang sedang dihadapinya, sehingga klien mampu mengambil
keputusan dalam memecahkan permasalahannya.
C. Kemampuan/Keterampilan
Kemampuan atau Ketrampilan yang harus dimiliki oleh
Konselor. Seorang konselor seharusnya :
1) Mampu menjadi Pemdengar yang aktif
Agar konselor mampu
menjadi pendengar yang aktif maka diharapkan konselor dapat :
§
Menerima
klien apa adanya, tanpa harus menilai
§
Melakukan
Observasi
§
Melakukan
empati
§
Melakukan
Refleks
2) Mampu Bersikap Atentif
Selama percakapan
berlangsung konselor diharapkan dapat bersikap atentif yaitu dengan menunjukkan
minat dan perhatian pada klien misalnya, menyapa/melayani klien dengan sopan,
melakukan kontak mata dengan klien, sikap tubuh saat bercakap-cakap dengan
klien agak condong kedepan, memberikan senyuman pada saat yang tepat tidak
cemberut atau senyum terus. tidak memotong pembicaraan, tidak melakukan
pembicaraan lain saat pembicaraan sedang berlangsung.
3) Menggunakan Tehnik Bertanya yang Tepat
Dalam percakapan
konseling konselor diharapkan dapat menggunakan tehnik yang tepat, yaitu lebih
banyak menggunakan terbuka dari pada pertanyaan tertutup :
§
Pertanyaan
tertutup adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang singkat atau bisa
dijawab dengan ya dan tidak, biasanya digunakan pada awal percakapan untuk
menggali informasi dasar atau identitas klien, misal : "Sudah pernah
pacaran?" atau "Berapa usiamu?" dsb.
§
Pertanyaan
terbuka merupakan pertanyaan yang dapat mendorong klien untuk bercerita lebih
panjang sambil mengekspresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya,
misalnya ; "Apa yang kamu ketahui tentang pubertas?", "Bagaimana
perasaanmu waktu kamu pertama kali datang kerumah pacar?"
Mampu memberikan
informasi yang jelas dan benar sesuai dengan kebutuhan klien khususnya tentang
Kesehatan Reproduksi Remaja.
D. Dasar
Konselor
Konselor KRR atau
petugas yang akan melakukan konseling KRR (Petugas konseling) diharapkan
memiliki latar belakang sebagai berikut :
1) Memiliki pengalaman dalam kegiatan-kegiatan KRR
2) Memiliki minat yang sungguh-sungguh untuk membantu
klien
3) Terbuka terhadap pendapat orang lain, fleksibel/luwes
dalam komunikasi
4) Menghargai dan menghormati klien
5) Peka terhadap perasaan orang lain
6) Jujur dan dipercaya dan mampu memegang rasa
E. Langkah-langkah
Konseling
1) Persiapan
Sebelum pertemuan
konseling dilaksanakan, konselor melakukan persiapan-persiapan sebagai berikut
:
§
Menyiapkan
diri baik secara mental psikologis agar konselor tidak terpengaruh oleh emosi
tau masalah pribadi yang dapat mengganggu konsentrasi/proses konseling
§
Mengatur
dan menata tempat konseling sesuai dengan persyaratan yaitu, nyaman, tidak
bising, aman, terjamin privacinya dan tenang.
§
Menyiapkan
alat bantu agar mempermudah dalam memberikan penjelasan tentang KRR, alat bantu
dapat berupa Leaflet, lembar balik, alat peraga, gambar , dll.
2) Pelaksanan proses Konseling
§
Ucapkan
salam untuk menyambut kedatangannya
§
Mempersilahkan
klien duduk
§
Perkenalkan
diri anda
§
Tanyakan
pada klien tentang maksud kedatangannya
§
Kemudian
dapat ditunjukan dengan menanyakan lebih jauh tentang permasalahan yang
dihadapi
§
Berikan
informasi yang tepat dan benar dengan bahasa yang sederhana, jelas dan mudah
dimengerti
§
Berikan
beberapa alternatif jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi klien
§
Dorong
dan bantu klien agar mampu menentukan jalan keluar atas permasalahan yang
dihadapinya, sehingga klien mampu mengambil keputusan yang tepat.
§
Bila
klien tampaknya sudah puas dengan pertemuan konseling tersebut maka ucapkan
salam penutup.
§
Bila
klien merasa belum mampu mengambil keputusan, tawarkan untuk berdiskusi lagi
dalam pertemuan berikutnya.
F. Saat
Sulit Dalam Konseling
Saat-saat yang sulit yang dapat ditemui dalam
konseling antara lain :
1) Bila klien menangis
2) Klien pasif dan diam
3) Klien menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi
4) Klien meminta konselor untuk mengambil keputusan
5) Konselor tidak mampu menjawab pertanyaan klien
6) Konselor tidak menemukan alternatif jalan keluar
7) Konselor dan klien sudah saling mengenal dengan baik
G. Cara
Mengatasi Saat-saat Sulit dalam Konseling
1. Bila klien menangis
a)
Jangan
menduga-duga apa yang menyebabkan klien menangis
b)
Biarkan
klien menangis beberapa saat
c)
Bila
klien terus menangis, katakan bahwa menangis tidak apa-apa. Hal ini akan
membuat bahwa klien diperbolehkan untuk mengemukakan alasannya mengapa ia
menangis. kemudian tanyakan dengan hati-hati alasannya
d)
Bila
klien tetap saja menangis maka berilah klien untuk menumpahkan emosinya.
mengeluarkan beban dan ganjalan-ganjalan melalui tangisannya
2. Bila Klien Pasif dan Diam
a)
Bila
pada awal pertemuan klien diam saja maka tataplah klien dengan sopan, gunakan
bahasa tubuh yang menunjukkan simpati dan minat, dan katakan bahwa konselor
mengerti bahwa klien sulit atau kawatir untuk mengemukakan atau memulai
percakapan. Biasanya hal tersebut terjadi pada klien yang masih baru.
b)
Bila
pada saat-saat selanjutnya klien tetap diam, maka sebenarnya hal ini merupakan
sesuatu yang wajar, karena kemungkinan klien sedang berpikir atau mencari
kata-kata agar dapat mengutarakan perasaan dan pikirannya
3. Bila Klien Menanyakan hal-hal yang Pribadi
a)
Bila
klien cenderung menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi maka usahakan untuk
berbicara pribadi anda
b)
Bila
klien terus mendesak menanyakan dan mengorek pribadi anda, katakan dengan sopan
bahwa hal tersebut tidak perlu diketahui orang lain
4. Bila Klien Meminta Konselor untuk Mengambil Keputusan
a)
Bila
klien memaksa konselor untuk mengambil keputusan katakan bahwa konselor telah
mengemukakan beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk mengambil keputusan
b)
Selanjutnya
katakan bahwa yang akan melaksanakan keputusan nantinya adalah klien, jadi
klienlah yang lebih memahami kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila
keputusan tersebut dilaksanakan. karena itu klienlah yang harus mengambil
keputusan.
5. Bila Konselor tidak Mampu Menjawab Pertanyaan Klien
a)
Katakan
dengan jujur dan terbuka bahwa konselor betul-betul tidak mengetahui jawabannya
b)
Upayakan
bersama klien untuk mencari jalan keluar
c)
carilah
dan tunjukkan sumber yang dapat dirujuk atau referensi-referensi lainnya yang
dapat dimanfaatkan
6. Bila Konselor tidak Menemukan Alternatif dan Jalan
Keluar
a)
Upayakan
agar semua keluhan klien dapat diterima
b)
Diskusikan
dengan pihak lain yang mampu membantu menemukan solusinya
c)
Tunda
pertemuan, sambil berupaya untuk menemukan jalan keluar
7. Bila Konselor dan Klien Sudah Saling Mengenal
a)
Tunjukkan
dan yakinkan pada klien bahwa konselor akan tetap menjaga kerahasiaan klien
b)
Bila
klien mengijinkan, aturlah pertemuan dengan konselor lain
c)
tetap
bersikap profesional denganmemperlakukan klien sama dengan klien yang lain.
RUJUKAN:







0 komentar:
Posting Komentar